PALEMBANG- Di sebuah sudut Palembang, kain-kain jumputan berwarna cerah tersusun rapi. Setiap motifnya menyimpan cerita, bukan hanya tentang budaya Sumatera Selatan, tetapi juga tentang keberanian seorang perempuan mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Adalah Devi Hermayani, sosok di balik Habar Jumputan, yang memilih meninggalkan kenyamanan bekerja di perusahaan swasta demi merawat dua peran sekaligus yaitu, sebagai ibu dan pelestari warisan budaya. Keputusan itu ia ambil pada 2018, usai kelahiran anak keduanya. Di tengah masa transisi tersebut, sebuah dorongan sederhana dari sang saudara, Nova, justru mengubah arah hidupnya.
Devi mulai menengok kembali kain jumputan, wastra khas Sumatera Selatan yang dahulu akrab dikenakan, namun perlahan tergeser oleh arus produk modern dan impor. Baginya, jumputan bukan sekadar kain, melainkan identitas daerah yang tak boleh hilang. Dengan modal terbatas dan keyakinan besar, ia mendirikan Habar Jumputan pada Januari 2019.
Langkah awal tidak selalu mudah. Devi mendatangi satu per satu pengrajin jumputan di Palembang. Banyak di antara mereka yang sudah berhenti berproduksi karena sepinya permintaan. Namun perlahan, pesanan kembali berdatangan.
“Waktu saya mulai memesan kain, mereka sangat senang. Ada yang bilang sudah lama tidak mendapat order. Dari situ saya sadar, usaha kecil ini bisa memberi harapan,” kenang Devi.
Kain jumputan handmade hasil karya pengrajin Palembang kemudian diolah menjadi busana bernuansa modern. Proses penjahitan melibatkan penjahit lokal di Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Setiap helai pakaian tak hanya membawa nilai estetika, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi di tingkat akar rumput.
Seiring waktu, Habar Jumputan tumbuh. Produk-produknya melewati proses quality control sebelum dipasarkan, baik secara offline maupun online. Berbasis di Palembang, Habar Jumputan kini telah membuka cabang di salah satu pusat perbelanjaan, merambah usaha kuliner khas Palembang, hingga membuka cabang baru di kawasan Tol Kayuagung–Kertapati pada 2025.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting lainnya ketika Habar Jumputan resmi menjadi UMKM binaan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Program Pertamina UMK Academy. Dukungan ini membuka ruang pembinaan, penguatan usaha, serta perluasan pasar yang semakin memperkokoh keberlanjutan bisnis Devi.
“Kain jumputan adalah warisan budaya yang harus dijaga. Saya ingin mengemasnya menjadi busana kekinian agar kembali diminati, terutama oleh generasi muda. Pembinaan dari Pertamina Patra Niaga memberi kami semangat dan peluang untuk terus berkembang,” tutur Devi.
Hari ini, Habar Jumputan mempekerjakan belasan tenaga kerja dengan omzet berkisar Rp75 juta hingga Rp100 juta per bulan. Dari usaha yang bermula dari pinjaman sederhana, Devi kini memiliki aset produk untuk beberapa cabang. Bahkan, dari hasil jerih payahnya, ia mampu memberangkatkan keluarga untuk umrah serta mendaftarkan ibunya menunaikan ibadah haji.
Di tangan Devi Hermayani, sehelai kain jumputan bukan hanya menjadi busana. Ia menjelma menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, tentang budaya yang terus hidup, dan tentang harapan yang dirajut dari benang-benang ketekunan.
Bagi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, kisah Habar Jumputan adalah potret nyata bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi.
“Habar Jumputan menunjukkan bahwa UMKM tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal. Dengan inovasi dan pendampingan yang tepat, kain jumputan tetap relevan di tengah perkembangan zaman,” ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi.





